lingkaran persahabatan


ingkaran Bintang Persahabatan

Hari ini hari Senin. Aku memulai aktivitas sekohku kembali dengan ditemani embun pagi yang masih menyelimuti kota Palembang. Betapa cerahnya hari ini. “Semoga hari ini hari yang menyenangkan,” harapku. Ketika tiba di sekolah, aku mendengar kabar dari teman-temanku bahwa hari ini kami mendapat teman baru. Saat bel masuk berbunyi, kelasku yang tadinya ricuh sibuk membicarakan tentang anak baru itu, tiba-tiba menjadi hening menunggu kedatangan guru yang akan mengajar kami. Tidak lama kemudian, terdengar suara hentakkan kaki yang menuju ke kelas kami. Bapak Kepala Sekolah memasuki kelas kami bersama seorang anak perempuan yang tidak berseragam sekolah sama seperti kami. Bapak Kepala Sekolah memperkenalkannya kepada kami. “Nah, anak-anak, kita kedatangan murid baru dari SD Makmur Jaya, Padang. Mulai hari ini ia akan menjadi teman kalian yang baru. Karena bel masuk sudah berbunyi, maka perkenalannya nanti saja saat istirahat dan kamu duduk di sana saja ya, Nak”, kata Bapak Kepala Sekolah sambil mengakhiri perkenalan murid baru itu dan menunjukkan ia tempat duduk di sebelah Tini, sahabatku. Lalu Bapak Kepala Sekolah keluar dari kelas kami. Kelasku pun mulai ricuh dan teman-temanku saling berbisik serta sibuk berkenalan menanyakan namanya dan tempat tinggalnya. Aku diam saja melihat tingkah laku teman-teman kelasku. Tidak berniat sedikit pun dalam benakku untuk berkenalan dengannya, karena banyak sekali yang mengerumuninya. Aku hanya mengetahui namanya dari Tini. Tini memberitahuku kalau anak baru iu bernama Hani.

—-

Itu dulu. Kisah pertama kali aku bertemu dengan Hani saat kami masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku juga tidak menyangka bahwa sekarang Hani bisa menjadi sahabatku. Saat ini kami sudah lulus dari SMP. Banyak sekali hal-hal yang telah aku lakukan bersama Hani dan Tini. Besok aku dan Hani akan mengikuti tes penerimaan siswa baru di SMA Xaverius 1. Berbeda dengan Tini, ia mengikuti jalur PMK di SMA Cinta Kasih. Walaupun Tini tidak akan satu sekolah dengan kami, tetapi kami sudah membuat kesepakatan bahwa akan tetap saling berkomunikasi dan sering kumpul bareng.

Setelah mengikuti tes, ternyata aku dan Hani lulus tes dan berhasil ke tahap wawancara. Aku tidak menyangka bahwa aku masih bisa satu sekolah dengan Hani. Hari-hari pun terus berlalu. Hingga akhirnya tiba di hari penentuan kelas. Setelah aku melihat uratan pembagian kelas, ternyata aku tidak sekelas dengan Hani. Kelasku dengan kelas Hani terpisah dengan jarak yang lumayan jauh, karena sekolahku ini tergolong sekolah yang cukup luas areanya. Hani ingin aku sekelas dengannya, begitu juga dengan aku. Apa boleh buat, pembagian ruang kelas sudah diumumkan. Aku pun harus menaati peraturan sekolah.

Beberapa hari kemudian, wali kelasku memanggilku dan menyuruhku untuk pindah ke kelas Hani. Aku kaget sekali saat wali kelasku menyuruhku pindah ke kelas Hani. “Lena, sebaiknya sekarang kamu pindah ke kelas Hani di kelas X B.” Wali kelasku menyuruhku untuk pindah kelas secara tiba-tiba. Saat aku memasuki kelas Hani, Hani menyambutku dengan riang gembira seakan ia baru mendapat hadiah yang sangat istimewa untuknya. Aku tidak menyangka kalau Hani sampai memohon dengan papanya untuk memindahkanku agar sekelas dengan Hani. Tetapi aku juga senang karena bisa sekelas dengan Hani lagi. Aku menceritakan hal ini dengan Tini. Dia hanya bisa menunjukkan wajah irinya karena aku dengan Hani bisa sekelas lagi.

—-

Hari-hari pun terus berlalu. Aku dan Hani semakin sering menghabiskan waktu bersama. Hani sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Kami juga mendapat teman baru yang seru dan mengasyikkan. Mereka adalah Nasya, Uli dan Oliv. Kalau aku lagi ada masalah, aku selalu menceritakan masalahku dengan mereka. Begitu pun dengan mereka. Mereka juga sering mencurahkan isi hati mereka.

Hingga suatu malam yang tak terlupakan, saat aku, Hani, Nasya, Uli dan Oliv berencana menginap di rumah Hani. Sebelumnya kami jalan-jalan malam ke luar perumahan naik mobil Nasya dan Nasya sendiri yang menyetirnya. Saat melewati warung nasi goreng, tiba-tiba Nasya mengajak kami untuk makan nasi goreng dulu. “Eh, kita makan nasi goreng dulu, yuk.” ajak Nasya. “Aduh, aku nggak bawa uang, Sya! Dompetku tadi ditaruh di rumah Hani.” Aku menjelaskannya dengan jujur. “Kami juga nggak bawa uang, Sya!” tambah Uli dan Oliv. “Oh, nggak apa-apa! Aku bawa uang kok! Walaupun cuma Rp 5000,- tapi cukup kok! Ayolah…,” Nasya mencoba membujuk kami. “Eh, Han! Kamu bawa uang nggak?” tanya Nasya. “Bawa. Tapi aku cuma bawa Rp 2000,- hehehe.” Hani pun menjawab dengan wajah tanpa berdosa. “Yess! Cukup kok! Turun semua, yuk!” ajak Nasya yang dengan semangat langsung keluar dari mobil.

Nasya segera memesan satu nasi goreng dan satu es jeruk. Sementara makanan lagi dimasak, kami berfoto-foto dulu dengan wajah termanis kami. Sambil menunggu makanan tiba, kami juga saling melontarkan teka-teki lucu. Kami berlima tertawa terbahak-bahak, seakan tidak ada beban di hati kami. Akhirnya, makanan pun sudah selesai dimasak dan sekarang ada di hadapan kami. Nasya segera mengambil 5 sendok dan 5 sedotan. Dia langsung membagikannya ke kami. “Ayo, makan! Jangan malu-malu!” ajak Nasya. Kami memandang Nasya dengan heran. Tanpa malu-malu, aku juga mengikuti Nasya makan nasi goreng itu. Hani, Uli, dan Oliv pun mengikutiku. Kami tidak mau tahu apa kata orang-orang yang melihat ke arah kami. Senang sekali rasanya. Sepiring dan segelas berlima. Benar-benar pengalaman yang tak akan terlupakan bagiku. Selesai makan, kami pun pulang menuju rumah Hani. Sesampainya di rumah Hani, tiba-tiba Uli mengajak kami untuk duduk santai sebentar di teras luar rumah Hani. Kami pun mengangguk setuju dan segera keluar dari mobil Nasya. Aku melihat banyak sekali bintang malam ini. “Eh, gimana kalau kita tidur-tiduran di sana?” Aku mengajak mereka untuk tidur-tiduran di jalan depan rumah Hani. “Ayoooo!” teriak mereka dengan semangatnya. Hani segera mengambil koran bekas di dalam rumahnya. Dengan beralaskan koran, kami pun mengambil posisi tidur yang pas dengan mata memandang langit. Sepi. Hening. Malam ini terasa sangat tenang. Langit juga ikut menawarkan pemandangan menakjubkan dengan hamparan bintang yang banyak.

Tiba-tiba Oliv mengagetkan lamunan kami dengan berkata, “Eh, ada bintang jatuh!” Ia menunjuk bintang yang bergerak dengan lambat, yang biasa waktu kecil kami sebut dengan bintang jatuh. Hani yang berada di sebelah kiriku, tiba-tiba menggenggam tanganku dengan erat. Aku melihat ke arahnya yang sedang menutup mata. Aku pun mengerti maksudnya dan juga aku langsung menggenggam tangan Nasya yang berada di sebelah kananku, lalu aku menutup mata dan mengucapkan sebuah permohonan di dalam hati. “Semoga kami berlima selalu bersama baik di saat suka maupun duka kami jalani bersama.” Ucapku dalam hati.

Hani mulai membuka suara, ”Malam ini banyak banget ya bintangnya. Bagus-bagus semua.” Aku mulai membuka mataku kembali dan melihat ke arah langit. “Iya! Banyak banget bintangnya. Ada bintang jatuh lagi nggak ya?” ucapku penuh harap. “Eh, coba deh kalian lihat bintang-bintang itu! Ada lima bintang yang cahayanya terang banget!” seru Nasya sambil menunjuk kelima bintang itu. “Iya, aku lihat kok! Lima bintang itu membentuk lingkaran.” Uli menambahkan. Aku pun memandang kagum terangnya pancaran cahaya yang diberikan kelima bintang itu. “Semoga persahabatan kita bisa abadi selamanya seperti yang disimbolkan lingkaran itu.” Oliv ikut menambahkan. “Amiiiiinnn!” seru kami berlima berbarengan. Hari ini aku merasa menjadi orang yang paling beruntung sedunia karena seharian ini aku menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatku.

—-

Tiga tahun sudah kami jalani bersama. Hingga suatu hari, Nasya mengabarkan bahwa ia akan pindah rumah. “Beberapa hari lagi aku haru ikut ayah dan ibuku pergi. Ayah pindah tugas ke Jakarta.” Nasya mengabarkannya dengan kami. Ia menghela napas panjang. Mendengar hal ini, kami merasakan suatu kesedihan. Sedih akan berpisah dengan Nasya. Merasa akan ada yang kurang diantara kami berlima. Tidak akan bisa kumpul bareng Nasya lagi. “Nasya kami tidak ingin berpisah denganmu! Aku masih ingin kita berlima makan sepiring berlima dan minum segelas berlima, melihat bintang berlima, main hujan-hujanan, ngumpul di rumah Hani yang sebagai “basecamp” kita berlima. Akankah hal itu terulang kembali?” Ucapku dalam hati.

Tiga hari lagi Nasya akan pindah ke Jakarta. Sementara itu, aku, Hani, Oliv, dan Uli sedang berkumpul di rumah Hani untuk memikirkan kenang-kenangan yang cocok diberikan untuk Nasya. Kenang-kenangan tersebut bukan sembarang kenang-kenangan. Kami ingin memberikan sebuah kenang-kenangan yang akan Nasya ingat selalu. Aku berpikir sejenak. Tiba-tiba muncul sebuah ide dari pikiranku. “Eh, gimana kalau kita kasih Nasya sebuah bingkai berbentuk lingkaran yang besar. Nanti tempel foto-foto kita waktu makan sepiring dan minum segelas berlima itu sama foto-foto kita waktu melihat bintang. Setuju nggak?” ujarku memberikan sebuah ide. Mereka langsung mengangguk-anggukan kepala mereka dan berkata “Setujuuu!”

Kami segera berbagi tugas-tugas yang akan kami kerjakan dan selesaikan hari ini juga. Uli dan Oliv akan pergi membeli karton, spidol, dan crayon di warung dekat rumah Hani. Sementara itu, aku dan Hani akan pergi ke pasar membeli pernak-pernik yang akan dijadikan sebagai hiasan. Kami segera bersiap-siap dan menjalankan tugas kami masing-masing. Aku langsung mengeluarkan motorku dari garasi rumah Hani dan aku segera menancapkan gas motorku. Setibanya di pasar, aku langsung memarkirkan motorku. Aku dan Hani berkeliling mencari pernak-pernik yang akan dijadikan hiasan untuk kenang-kenangan itu.

“Akhirnya… Udah dibeli semua kan? Nggak ada yang kurang kan, Han?” tanyaku pada Hani. “Sip! Udah beres semua!” jawab Hani. “Oke. Kita langsung pulang yuk!” ajakku. Aku segera menghidupkan motorku. Saat aku keluar dari pasar, tiba-tiba dari arah yang berlawanan, ada mobil yang mengambil jalan kami. Melihat itu, aku panik dan aku langsung membelokkan motorku ke arah kanan, dan mobil itu pun membanting setir ke arah kiri. Aku pun terjatuh dan langsung berdiri menjauhi motorku. Sementara iu, Hani terjatuh dengan posisi tidur ke arah kiri. Ia menangis sambil memegang tangan kirinya. Aku segera menghampiri Hani. “Han, kamu nggak apa-apa?” tanyaku. “Aduh, sakit banget tangan kiriku, Len! Sakiiitt! Tangan kiriku nggak bisa digerakkan, Len! Nggak ada rasa, Lena! Arrrrggh, sakiittt!” mata Hani yang bulat dan jernih mulai berkaca-kaca. “Sabar, Han! Aku segera cari pertolongan! Tolooooongg! Tolooooongg!” teriakku meminta tolong. Orang-orang yang tadinya sibuk mengerumuni mobil yang tadi menabrak pohon karena membanting setir, sebagian ada yang langsung menolong kami.

Akhirnya ada sepasang suami istri yang bersedia menumpangi kami untuk dibawa ke rumah sakit. Aku membantu Hani untuk berdiri dengan perlahan-lahan. Di dalam mobil, Hani masih terus menangis dan meraung kesakitan. Aku menatap Hani dengan cemas. Aku merasa bersalah melihat Hani yang begitu terpukul karena tangan kirinya tidak bisa digerakkan. Aku segera menghubungi orang tua Hani dan memberitahukan kejadian yang sebenarnya. Aku juga memberitahu Oliv, Uli, dan Nasya.

—-

Tik… tik… tik… Suara detak jarum jam dinding di ruang tunggu terdengar jelas. Aku masih cemas menunggu hasil pemeriksaan dokter. Kejadian tadi masih terekam jelas di pikiranku. Aku menyesal kenapa hal ini bisa terjadi. Tiba-tiba Pak dokter keluar dari ruang pemeriksaan, papa dan mama Hani segera berdiri mendekati Pak dokter dan menanyakan keadaan Hani. Aku hanya mendengarnya dari jauh. “Dokter, bagaimana keadaan Hani? Hani baik-baik saja kan, Dok?” Ibunya Hani bertanya dengan Pak dokter. “Maaf, apakah bapak dan ibu ini orang tuanya Hani?” tanya Pak dokter. “Iya, kami ini ayah dan ibunya Hani. Bagaimana keadaan Hani sekarang, Dok?” tanya ayahnya. “Mari bapak dan ibu ikut ke ruangan saya sebentar.” jawab Pak Dokter.

Aku merasa sangat bersalah. Tiba-tiba Nasya datang bersama pacarnya, Aldi. Diikuti Oliv dan Uli. Mereka langsung mendekatiku. Aku menangis di pelukan Nasya. “Coba aku nggak usah buat ide ini. Pasti nggak akan terjadi seperti ini. Aku jahat ya, Sya. Aku buat tangan kiri Hani patah.” kataku sambil tersendat-sendat. “Sssttt! Kamu nggak boleh ngomong gitu, Len! Semua itu juga bukan salah kamu, Lena! Ini adalah cobaan. Cobaan yang harus kita jalani dengan tegar. Kita berdoa saja, semoga Hani baik-baik saja.” Nasya mencoba menenangkanku.

Tiba-tiba datanglah keluarga Hani. Ada kakaknya, om dan tantenya Hani. Tak lama kemudian, papa dan mama Hani keluar dari ruangan Pak dokter. Pak dokter langsung memberitahu kami bahwa Hani akan dipindahkan ke luar negeri untuk menyembuhkan tangan kirinya yang patah. Aku mencoba melihat ke arah papa dan mamanya Hani. Papanya Hani tampaknya tidak menyukaiku dan langsung pergi ke ruangan tempat Hani dirawat. Aku segera menghampiri mamanya Hani dan meminta maaf atas kesalahanku. “Tan, maafin Lena ya. Lena tahu Lena salah. Tapi Lena nggak sengaja, Tan! Lena juga nggak mempunyai niat sedikit pun untuk mencelakai Hani sampai jadi begini, Tan.” Aku berusaha meminta maaf dan memberikan penjelasan dengan mamanya Hani. “Nggak apa-apa, Len. Kita berdoa saja semoga Hani cepat sembuh.” jawab mamanya Hani sambil menghapus air mataku. Aku meminta izin untuk melihat Hani di ruangannya dan mamanya Hani pun mengizinkannya.

Kami berempat langsung menuju ke ruangan Hani. Hani ternyata sudah tidak menangis lagi. Ia melihat aku, Nasya, Oliv dan Uli yang mulai memasuki ruangan Hani. Hani mencoba tersenyum. “Han, aku minta maaf. Ini semua salah aku. Seharusnya aku nggak mengeluarkan ide ini yang ternyata buat kamu celaka. Maaf, Han.” Tak terasa air mataku mulai membasahi pipiku. Aku merasa bersalah atas kejadian ini. “Kamu nggak perlu minta maaf, Len! Ini semua memang sudah direncanakan Tuhan. Kita nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita.” Jawab Hani. “Han, aku nggak jadi pindah tau! Ternyata ada orang lain yang bisa menggantikan posisi papaku di Jakarta.” ujar Nasya. “Wah, bagus dong kalau begitu! Kita masih bisa berlima dan kumpul bareng di rumahku lagi.” jawab Hani dengan senyumnya yang tulus. “Lena, kamu jangan nangis lagi dong! Aku janji, kalau aku pulang dari berobat di luar negeri nanti, kita bakal melihat bintang berlima lagi.” Lena berusaha menghiburku. Aku hanya bisa membalasnya tersenyum kecil.

—-

Tiga bulan sudah Hani pergi meninggalkan kami berempat untuk berobat ke Singapura. Sekarang aku semakin sering pergi ke rumah Nasya untuk bercerita di saat aku tiba-tiba sedih bila mengingat kecelakaan itu. Aku dan Nasya juga sering main ke studio bandnya Aldi, pacarnya Nasya. “Eh Len, kenalin nih anggota personil bandku!” Aldi memperkenalkan mereka satu persatu. “Hey! Aku Rey!” Rey memperkenalkan namanya. “ Yang ini Jhon!” tambah Aldi. Aku pun bersalaman dengan Jhon. “Dan yang ini Bima!” ujar Aldi. “Hai…,” sapanya sambil mengulurkan tangannya. Aku terpaku menatap Bima. Tetapi, nggak lama kemudian aku membalas uluran tangannya. Tangan Bima terasa hangat sekali sampai-sampai aku enggan melepaskannya. “Eiitttt… Udah dong kenalannya! Lama banget…,” Nasya membuyarkan lamunanku. Buru-buru aku melepaskan pegangannya.

Di saat waktu istirahat, Bima sering mendekatiku dan mengajakku mengobrol tentang pengalaman-pengalaman yang kualami dulu saat Hani masih ada di Tanjung Enim. Entah kenapa aku merasa nyaman bila selalu berada di dekat Bima. Aku senang sekali bisa berbagi cerita dengan Bima. Aku mengeluhkan semua masalah yang sedang kuhadapi. Aku juga memberitahu Bima bahwa sampai sekarang pun aku masih dihantui perasaan berdosa atas kecelakaan itu. Bima juga selalu menyemangati aku agar jangan terlalu lama larut dalam kesedihan. Aku nggak menyangka sikap Bima begitu manis denganku.

Tak terasa, sudah setahun Hani tidak memberi kabar sama sekali. Aku tetap bersabar dan yakin bahwa suatu saat nanti aku akan bertemu dengan Hani lagi. Hubunganku dengan Bima pun semakin dekat. Setiap hari Bima menjemputku saat pulang sekolah dengan sepeda motornya. Kami juga sering jalan bareng Nasya dan Aldi. Hari ini Bima berjanji akan mengajakku nonton di bioskop. Aku pun sudah siap dan sedang menunggu Bima menjemputku.

Tiiinn… Tiiiinnnn.. Sepertinya itu suara motor Bima. Aku segera pergi keluar dan membuka pintu. Ternyata benar dugaanku, Bima sudah menjemputku. Bima terpaku melihat penampilanku. Aku pun berhasil dibuatnya menjadi malu. “Ehm, penampilanku aneh ya?” tanyaku membuyarkan lamunannya. “Oh, nggak kok!” jawab Bima sambil tersenyum. “Kamu cantik!” tambahnya. Tatapannya dalam dan hangat. Aku segera menengadah begitu mendengar kata-kata Bima barusan. Apa Bima barusan bilang secara tersirat bahwa aku cantik? Ulangi lagi, Bim! Biar aku yakin bahwa pendengaranku nggak rusak. “Apa? Tadi kamu bilang apa?” tanyaku lagi sambil menatapnya. Bima yang aku tatap begitu Cuma berlagak kikuk. “Apanya yang apa?” jawab Bima kemudian. Ugh, apa aku salah dengar ya? “Nggak ada siaran ulang. Salah sendiri tadi nggak dengerin!” tambah Bima. “Sudah siap tuan putri?” tanya Bima. “Ih, apaan sih. Norak deh!” Aku langsung duduk menaiki motor Bima. “Eh, Bim! Dua hari lagi aku berulang tahun yang ke-17. Kamu bisa datang kan ke acara ulang tahunku?” aku mengundang Bima untuk datang ke pesta ulang tahunku. “Oh, tentu bisa dong!” jawab Bima dengan mantap. Dua hari kemudian, acara yang kutunggu-tunggu pun tiba. Tamu mulai ramai berdatangan. Uli dan Oliv datang menghampiriku dan menyalamiku. “Selamat ulang tahun, Lenaaaaa!” seru mereka berbarengan. “Semoga Lena tambah dewasa ya, sayang!” Oliv berkata sambil mencium kedua pipiku. “Semoga Lena tambah awet sama si Bima.” Uli menambahkan. “Sssstt! Aku belum jadian dengan Bima tahu!” jawabku yang merasa risih dengan yang dikatakan Uli tadi. “Siapa tau saja dia nembak kamu hari ini. Tepat di hari ulang tahun kamu yang ke-17!” balas Uli. “Iya, betul tuh! Oooohh, romantiss bangeetttt.” tambah Oliv dengan wajah sok imutnya.

“Eh, Len! Itu Bima kan?” Uli menunjuk Bima yang sedang menggandeng seorang gadis sebaya kami. Gadis itu tinggi semampai dan berpenampilan anggun sekali, tetapi wajah gadis itu ditutupi dengan topeng. Aku mengangguk lemas melihat Bima menggandeng seorang gadis. “Iya, itu Bima.” jawabku singkat. Bima segera menghampiriku dan mengucapkan, “Selamat Ulang tahun, Lena! Sukses selalu ya!” Bima memberikan senyum termanisnya. Senyum yang dapat membuat semua cewek menjadi luluh hatinya. “Makasih.” jawabku dingin. “Aku punya kado spesial buat kamu! Kamu hadap ke belakang dulu dong!” Bima menyuruhku untuk menghadap ke belakang. Aku pun menuruti perintah Bima. Aku juga bingung sendiri, kok aku mau disuruh Bima menghadap ke belakang.

Tiba-tiba ada sentuhan lembut yang menepuk pundakku. Aku segera membalikkan badanku kembali. Aku hanya bisa diam. Kaget. Aku tidak percaya dan merasa tidak yakin dengan apa yang kulihat sekarang. Aku berharap kalau ini adalah kenyataan. “Oh, Tuhan… Semoga ini bukan mimpi.” Ucapku dalam hati. “Haniiii!” aku langsung memeluk erat sahabatku ini. Tak terasa air mata mulai membasahi pipiku. “Ya ampun, Hani! Sejak kapan kamu sudah di Palembang? Kok nggak bilang-bilang, sih? Kamu juga sombong banget! Nggak ada kasih kabar lagi ke aku. Kamu tahu nggak kalau aku selalu sabar menunggu kabar dari kamu! Apa kamu sudah lupa ya sama aku?” aku berkata panjang-lebar sambil masih memeluk Hani. “Lena, mana mungkin aku lupa sama kamu yang udah buat aku kayak begini.” balas Hani. “Han, kamu masih marah ya atas kejadian itu? Aku minta maaf, Han!” jawabku dengan penuh rasa bersalah.

Hani melepas pelukanku dan menghapus air mataku. “Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Kini kita hadapi masa depan yang ada di depan mata kita.” Hani tersenyum dan juga memeluk Nasya, Oliv dan Uli secara bergantian. “Eh iya, kenalin ini sepupu aku….” Hani memperkenalkan Bima. “Dia lho yang memberitahuku keadaan kamu di sini, Len! Ternyata kamu cengeng juga ya. Baru aku pergi setahun saja kamu sudah nangis terus karena kangen sama aku.” Hani bercerita dengan PD-nya. “Yeeee! GR kamu, Han!” aku membalasnya. “Eh, Bim! Ngapain sih kamu kasih tahu ke Hani semuanya? Aku kan jadi malu dibilang Hani anak cengeng. Huh.” ujarku agak sedikit kesal dengan Bima. “Maaf tuan putri. Saya keceplosan.” jawab Bima seperti orang yang sedang berakting sebagai pangeran. “Iya, tapi aku sudah terlanjur kesal sama kamu, Bim!” jawabku. “Terlanjur kesal atau terlanjur cinta?” Bima membalas perkataanku. Aku mati kutu. Tidak bisa membalasnya lagi. Teman-temanku yang lain tertawa melihat aku yang menjadi salah tingkah karena ulah Bima. “Hmm… Tapi nggak apa-apa deh. Hani sudah kembali. Terima kasih Tuhan. Engkau sudah mempertemukan kembali aku dengan sahabatku. “Semoga kami berlima bisa menjaga persahabatan ini agar lingkaran persahabatan ini tetap utuh dan abadi seperti layaknya yang disimbolkan bintang berbentuk lingkaran, hingga kami tua nanti. Amin.” bisikku dalam hati.

karya shinta arminda (teman forum aku)

Tinggalkan komentar

Filed under Cerita Pendek

Kasih komentar disini !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s